Komitmen Pemerintah, AYO Imunisasi Campak dan Rubella

Pemerintah berkomitmen kuat dalam mewujudkan eliminasi campak dan mengendalikan penyakit rubella dan juga kecacatan bawaan akibat rubella (Congenital Rubella Syndrome) di Indonesia terhadap th. 2020. Strategi yang ditempuh adalah bantuan imunisasi Measless Rubella (MR) untuk anak umur 9 bulan sampai kurang berasal dari 15 tahun.

Komitmen Pemerintah, AYO Imunisasi Campak dan Rubella

“Strategi selanjutnya mempunyai tujuan mengendalikan kedua penyakit itu (campak dan rubella) yang sesudah itu diikuti peralihan pemakaian vaksin campak menjadi vaksin MR ke dalam program imunisasi,” kata Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila F. Moeloek, Selasa (1/8).

Hidup sehat adalah hak tiap tiap anak. Untuk itu, Menkes meminta sehingga tiap tiap anak memperoleh imunisasi MR. “Imunisasi MR diberikan untuk memelihara anak Indonesia berasal dari penyakit kelainan bawaan seperti problem pendengaran, problem penglihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi rubella terhadap sementara kehamilan. Kita ingin mewujudkan anak Indonesia yang sehat dan berkwalitas di sesudah itu hari,” ujar Menkes.

Deputi CEO GAVI Anuradha Gupta menjelaskan campak adalah salah satu penyakit paling menular terhadap manusia dan menelan satu korban jiwa tiap tiap empat menit, biasanya anak-anak. Sama bahayanya bersama rubella yang menjadi ancaman betul-betul dan jika tertular di jaman awal kehamilan dapat menyebabkan cacat bawaan sementara lahir terhadap otak, jantung, mata dan telinga. Namun hal selanjutnya dapat dicegah bersama lakukan imunisasi MR. “Dengan kurang berasal dari satu dolar per dosis imunisasi tersebut, penyakit-penyakit ini dapat dicegah bersama safe dan efektif,” kata Gupta. Pada imunisasi MR kali ini, GAVI mendukung Pemerintah Indonesia bersama mengimbuhkan kontribusi 50% berasal dari total biaya vaksin.

Pemberian imunisasi MR dapat dilaksanakan dalam dua fase, yakni terhadap Agustus sampai September 2017 di seluruh wilayah di Pulau Jawa, dan terhadap Agustus sampai September 2018 di seluruh provinsi di luar Pulau Jawa. “Pemberian imunisasi MR ditargetkan mencapai cakupan sekurang-kurangnya 95%. Target itu bertujuan sehingga eliminasi campak dan pengendalian rubella dapat terwujud terhadap 2020,” tambah Menkes.

Sebagai cara awal, pemerintah dapat lakukan pencanangan nasional kampanye dan introduksi imunisasi campak dan rubella di Madrasah Tsanawiah 10 Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pencanangan dapat dilanjutkan bersama peninjauan pelaksanaan service imunisasi di sekolah. Kebehasilan kampanye ini benar-benar ditentukan oleh bantuan dan partisipasi seluruh masyarakat.

Tahun ini, rencananya sejumlah 6 provinsi, 119 kabupaten/kota dan 3.579 Puskesmas dapat lakukan kampanye bersama total sasaran anak umur 9 bulan sampai bersama kurang berasal dari 15 tahun. Sebanyak 34.964.384 anak dapat diberi imunisasi MR. WHO mendukung Kementerian Kesehatan mempersiapkan aktivitas imunisasi terlebih di area berisiko tinggi dan terhadap populasi rentan. Sekitar 30 staf tambahan dikerahkan ke 5 provinsi, bekerja bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat untuk meyakinkan kualitas pelaksanaan imunisasi.

Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Jihane Tawilah, menjelaskan investasi untuk memerangi campak dan rubella merupakan pendorong kuat bagi peningkatan kesehatan Ibu dan Anak. “Eliminasi campak termasuk dapat menyumbang terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), target 3.2, yang di antaranya mempunyai tujuan sehingga di th. 2030 tak tersedia ulang kematian bayi dan Balita yang sebetulnya dapat dicegah,” katanya. Selain itu, United Nations Children’s Fund (UNICEF) berkomitmen penuh untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam kampanye imunisasi yang benar-benar penting ini. Wabah campak dan cacat bawaan sementara lahir akibat rubella dapat dicegah.

“Dari pengalaman kita di seluruh dunia, paduan vaksin campak rubella aman, efisien dan bermanfaat. Saat orang tua memelihara anak-anaknya berasal dari beraneka penyakit beresiko bersama imunisasi, maka mereka termasuk sudah memelihara anak-anak lain di sekitarnya dan memelihara jaman depan Indonesia,“ ujar Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson

Terkait penolakan imunisasi MR karena disangka haram, dijelaskan dalam MUI No. 4 Tahun 2016 bahwa imunisasi terhadap dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu. Imunisasi dapat menjadi harus saat seseorang yang tidak diimunisasi dapat menyebabkan kematian, penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa.