Menghilangkan Imperialisme dan Kapitalisme

Menghilangkan Imperialisme dan Kapitalisme
Menghilangkan Imperialisme dan Kapitalisme

Soekarno menyebut kedua sistem ini exploitation de I’homme par I’homme

exploitation de nation par nation, exploitation de state par state. Lebih lanjut, Soekarno menyebutnya sebagai Neo-kolonialisme dan Neo-imperialisme (Nekolim). Penekanan kapitalisme, imperialisme, dan nekolim yang dimaksudkan oleh Soekarno tidak hanya yang dilakukan oleh negara-negara Eropa Barat dan Amerika bagian Utara, tetapi lebih kepada watak dari ketiga hal tersebut, yaitu adanya watak penghisapan dan penindasan antar manusia, bangsa maupun negara. Dalam watak hubungan penghisapandalam satu bangsa, Soekarno memperingatkan mengenai adanya kapitelisme yang dilakukan oleh bangsa sendiri.

 

Mengenai hilangnya kapitalisme dan imperialisme, Soekarno

menyebutkan bahwa sistem dan tatanan sosial kenegaraan yang terbebas dari kapitalisme-imperialisme-nekolim adalah ketika adanya suatu sistem ekonomi yang tidak ada penguasaan sumber daya ekonomi dan masyarakat hidup bahagia sebagai bagian dari dunia yang memenuhi tuntutan budi nurani kemanusiaan.

Kaum Marhaen

Soekarno merujuk istilah marhaen pada orang yang memiliki modal (alat produksi) tetapi tidak berdaya secara ekonomi dan kelompok masyarakat lain yang tertindas oleh kolonialisme.[20] Lebih khusus lagi, Soekarno merujuk istilah marhaen pada petani pada masa kolonial belanda karena Soekarno melihat adanya penyimpangan dari praktek ekonomi yang disebabkan oleh kolonialisme yang terjadi di Indonesia .[21]

Bidang Perjuangan Marhaenisme

Sesuai dengan perjuangannya, yaitu kaum marhaen. Maka marhaenisme mengutamakan pada bidang ekonomi. Menurut Soekarno, tipe kolonialisme-imperialisme ekonomi yang dilakukan oleh negara Eropa Barat dan Amerika Serikat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya di masing-masing negara penjajah yang kemudian mempengaruhi pula corak kolonialisme-imperialisme yang diterapkan oleh masing-masing negara penjajah di wilayah jajahannya.[22] Sistem ekonomi kolonialisme-imperalisme yang dilakukan oleh Belanda tidak hanya berdampak pada kehidupan ekonomi bangsa Indonesia tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan budayanya.

Marhaenisme Merupakan Azas Sekaligus Cara Perjuangan

Selain sebagai azas, dalam artian sebagai kerangka teori dan pembenaran terhadap cita-cita perjuangan yang bersifat teoritik, tetapi marhaenisme merupakan cara perjuangan yang bersifat praktis. Aspek nasionalisme dalam marhaenisme yang berada dalam ruang dan waktu dimana kolonialisme –imperialisme secara fisik, ekonomi, politik, sosial, dan budaya yang sedang terjadi membuat nasionalisme tersebutdapat dijabarkan menjadi suatu alat untuk mempersatukan berbagai potensi kekuatan yang ada untuk melawan sistem yang menindas. Metode perjuangan yang sering disebut machtvorming (pembentukan kekuatan) dan machtsaanwending (penggunaan kekuatan) yang kemudian mewujud menjadi massa aksi.[23]

Marhaenisme Bersifat Revolusioner

Karena tujuan marhaenisme adalah menggantikan sistem yang ada, dalam hal ini adalah kapitalisme-kolonialisme-imperialisme, maka marhaenisme bersifat revolusioner. Perubahan yang di inginkan oleh marhaenisme tidak hanya perubahan yang sifatnya hanya pada tingkat perbaikan thesis (fenomena) atau tambal sulam melaikan perubahan yang diinginkan pada tingkat asumsi dasar dan menyeluruh (radikal). Soekarno menyatakan bahwa hakikat revolusi adalah perubahan yang mendasar (umgestaltung von grund aus).[24]

Persoalan Lanjutan

Hal lain yang perlu didiskusikan dan dikaji dengan seksama adalah mengenai hubungan antara apa yang disebut sebagai marhaenisme dengan Pancasila. Dalam pidato 1 juni 1945[25], soekarno menyatakan mengenai Trisila yang mengandung unsur marhaenisme. Sedangkan dalam tulisan mengenai hasil kongres Partindo tahun 1933[26], sebagaiman telah disinggung di atas, soekarno tidak memasukkan unsur Ketuhanan sebagai bagian dari Marhenisme. Lalu, bagaimana hubungan kedua hal yang merupakan hasil pemikiran soekarno ini? Hal inilah uang menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai anak ideologis Soekarno. [27]

[1] Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat edisi revisi, Cetakan Ketiga, 2014, hlm, 95

[2] Indonesia Menggugat, Departemen Penerangan Republik Indonesia, Tanpa Tahun (masih ejaan lama), hlm. 60-138

[3] Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi Jilid I, 2005

[4] Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat edisi revisi, Cetakan Ketiga, 2014, hlm. 74

[5] Ibid, hlm. 75

[6] Jeanne S. Mintz, Muhammad, Marx, Marhaen Akar Sosialisme Indonesia, Cetakan II, September 2003, hlm. 178

[7] Silahkan baca dan diskusikan isi pidato Soekarno pada sidang BPUPK pada tanggal 1 Juni 1945

[8] Jeanne S. Mintz, Muhammad, Marx, Marhaen Akar Sosialisme Indonesia, Cetakan II, September 2003, hlm. 178

[9] Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi. (Jakarta: Yayasan Bung Karno, 2005), hlm. 3

[10] Bung Hatta Bapak Kedaulatan Rakyat. (Jakarta: Yayasan Hatta, 2002), hlm. 108

[11] Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat edisi revisi, Cetakan Ketiga, 2014, hlm. 240-241

[12] Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat edisi revisi, Cetakan Ketiga, 2014, hlm. 241

[13] Plato Republik, (Yogyakarta: Narasi, 2015), Cetakan Pertama, 2015

[14] Dr. Sun Yat Sen, SAN MIN CHU I Tiga Asas Pokok Rakjat, (Djakarta: Balai Pustaka, 1951)

[15] William Ebenstein, Isme-isme Yang Mengguncang Dunia

[16] Ir. Soekarno, didalam buku Sarinah.

[17] Dr. Sun Yat Sen, SAN MIN CHU I Tiga Asas Pokok Rakjat, (Djakarta: Balai Pustaka, 1951)

[18] Silahkan Baca seri Buku Tentang Marxisme Yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno, yaitu: pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionerisme, Dalam Bayang-bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka, dan Dari Mao ke Mercuse: Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin

[19] Silahkan baca didalam kitab Dibawah Bendera Revolusi Jilid I yang berjudul kapitalisme bangsa sendiri

[20] Pancasila Dasar Filsafat Negara: Kursus Bung Karno. (Jakarta: Yayasan Empu Tantula, 1960), hlm. 29

[21] Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat edisi revisi, Cetakan Ketiga, 2014, hlm. 74 (1926)

[22] Silahkan baca Indonesia Menggugat, Pleidoi Soekarno di sidang Landraad, bandung, tahun 1929

[23] Uraian lengkap silahkan baca dalam kitab Dibawah Bendera Revolusi Jilid I yang berjudul swadeshi dan masaa-aksi di Indonesia

[24] Indonesia Menggugat, Departemen Penerangan Republik Indonesia, Tanpa Tahun (masih ejaan lama), hlm. 113

[25] Silahkan baca dan diskusikan isi pidato Soekarno pada sidang BPUPK pada tanggal 1 Juni 1945

[26] Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi Jilid I, 2005

[27] Anggota, Kader dan Alumni GmnI (Pejuang Pemikir- Pemikir Pejuang, Progresif Revolusioner)

Baca Juga :