Mulai Dari Tidak Direstui Ortu Sampai Di Keluarkan Dari Yayasan, Wanita Ini Nekat Didik Anak Papua

Mulai Dari Tidak Direstui Ortu Sampai Di Keluarkan Dari Yayasan, Wanita Ini Nekat Didik Anak Papua
Mulai Dari Tidak Direstui Ortu Sampai Di Keluarkan Dari Yayasan, Wanita Ini Nekat Didik Anak Papua

Rosa Dahlia, seorang wanita jawa asli kelahiran Magelang diberhentikan dari yayasan tempat

dia mengajar dikarenakan tidak bisa mengajar dengan kurikulum pendidikan yang sudah ditetapkan oleh yayasannya. Namun hal itu tidak membuat ia patah semangat, dengan semangat “guru” yang ia miliki iapun bertekat terbang ke Papua untuk mengikuti program pengiriman para pengajar ke Papua.

Ibarat cinta bertepuk sebelah tangan, apa yang Rosa niatkan tak mendapat restu dari orang tuanya. Tetapi dengan penuh keyakinan sedikit demi sedikit ia dapat meyakinkan orang tuanya bahwa apa yang akan ia perbuat merupakan pengorbanan bagi bangsa ini untuk mendidik tunas bangsa yang berada di ujung timur Indonesia agar memiliki SDM yang berkwalitas.

Tekat mulia Rosa ini dimulai tiga tahun yang lalu dimana ia mulai pertama kali mengikuti program

pengiriman tenaga pengajar ke Papua dan pertama kali itu juga ia ditempatkan di wilayah pegunungan yang susah akses keluar masuk dari wilayah tersebut.
Baca juga : Udang Selingkuh Ditemukan Di Gua Prasejarah Papua

Disana ia mendapati sekolah-sekolah yang sudah tidak aktif karena ditinggalkan oleh tenaga pengajar yang lama. ” Disana banyak sekolah yang tidak aktif. Guru juga banyak yang tidak aktif di lokasi sekolah. Guru di sana lebih memilih tinggal di kota dibandingkan tinggal di lokasi tempat dia mengajar. Selain itu, kurikulum yang dipakai Jawasentris,” kata Rosa saat berbagi pengalaman dalam acara Festival Orang Muda di Gedung Tempo, Jakarta, Sabtu, (5/11/2016).

Menurut penjelasan Rosa, kemampuan dalam menyerap ilmu pengetahuan bagi anak-anak

Papua sangatlah kurang, namun mereka itu tidak bodoh dan tidak malas dalam menuntut ilmu. Rosa berpendapat bahwa anak-anak Papua butuh di didik dengan cara Papua pula.

Rosa juga menceritakan pada tahun 2013 silam saat ia mengajar disebuah SD Tom Lanny Jaya dengan jumlah siswanya 30 orang, ia melihat kurikulum yang ada di sekolah tersebut berbanding mirip dengan kurikulum yang ada di Jawa. Kepala sekolah SD tersebut mengingikan kurikulum apa yang ada di Jawa juga harus ada di Papua. Dengan dasar inilah Rosa mulai membuat sistem mengajar kreatif dalam sistem pengajarannya bagi anak Papua.
Baca juga : Pendidikan Berpola Asrama Diyakini Akan Merubah Papua

Saat ini wanita yang begitu kritis dengan dengan pendidikan di Papua ini melakukan observasi di sekolah Asmat dengan menerapkan terobosan membuat sekolah perahu di sana. Hal ini ia lakukan guna membuat sistem pengajaran kreatif yang dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Asmat yang suka berburu dan melaut. Pengajaran yang diutamakan berupa baca, tulis, dan hitung.

“Kita ini orang Indonesia, sesama orang Indonesia harus saling peduli terhadap tunas bangsa Indonesia agar mereka dapat membangun daerahnya dan negara ini” Pesan Rosa.(YK)

 

Baca Juga :