Table of Contents

Aku adalah Pelayanmu

Siang hari yang terik menggersangkan padang pasir di seluruh penjuru kota. Tidak seorang pun yang kuat menghindar panasnya. Unta-unta pun berteduh di bawah bayangan masjid.

Lewatlah sesosok laki laki yang terjadi terburu-buru sambil menutup mukanya menembus panas terik dan angin berdebu. Mungkinkah ia laki laki asing yang tengah melacak area berlindung?

Tidak lama kemudian laki laki itu kembali kembali menantang terik matahari yang menyengat. Namun, kali ini ia menyeret seekor sapi yang enggan melaksanakan perjalanan sukar tersebut. Utsman bin Affan r.a yang mengamati total momen sejak awal berasal dari jendela rumahnya tergerak untuk menunjang orang tersebut.

Sungguh tak habis pikir, di selagi orang lain beristirahat di di dalam rumah yang teduh dan hewan-hewan piaraan pilih untuk bermalas-malasan, tapi orang ini berkenan berpanas-panasan. Ada apa gerangan? Siapakah orang itu? Semua pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran Utsman r.a.

Ketika Utsman r.a. menyapa orang tersebut, betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa laki laki yang tengah kesusahan di hadapannya adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab r.a. Utsman r.a pun langsung menyambutnya dan bertanya, “Apa yang kau lakukan, wahai Amirul Mukminin?”

“Tidakkah kaulihat aku tengah menyeret sapi?” jawab Umar r.a.

Sebenarnya bukan jawaban itu yang diharapkan Utsman r.a. Sudah pasti ia mengetahui sahabatnya tengah menyeret sapi, tapi mengapa ia melakukannya di siang terik? Bukanlah cii-ciri sahabatnya jikalau mencemaskan harta bendanya sampai seperti ini. Utsman r.a kembali bertanya, “Mengapa kau menggiring sapi itu di siang terik seperti ini? Begitu mendesakkah keadaanmu?”

Umar r.a kembali menjelaskan, “Ini adalah tidak benar satu sapi sedekah kepunyaan anak-anak yatim yang tiba-tiba lepas berasal dari kandangnya dan lari ke jalanan. Aku langsung mengejarnya dan alhamdulillah mampu kutangkap!”

Utsman r.a tersentak mendengar jawaban sang Amirul Mukminin, “Tidakkah ada orang lain yang mampu melaksanakan pekerjaan itu? Bukankah kau seorang khalifah? Kau mampu menyuruh orang lain untuk melakukannya?” tanya Utsman r.a.

Umar r.a menggeleng dan bicara tegas, “Apakah orang itu bersedia menjamin dosaku di hari perhitungan kelak? Maukah ia memikul tanggung jawabku di hadapan Allah? Kekuasaan itu adalah amanah bukan kehormatan.”

“Berisitirahatlah dulu di tempatku sampai panas meredup, selanjutnya kau mampu melanjutkan perjalananmu,” tawar Utsman r.a dengan hati bergetar setelah mendengar penjelasan sang Khalifah.

“Kembalilah ke tempatmu bernaung, sahabatku. Biarkan aku merampungkan kewajibanku.” Umar r.a kembali menyeret sapinya sambil terseok-seok menempuh perjalanan di bawah terik matahari.

Utsman r.a. cuma mampu memandangi sahabatnya berlalu berasal dari hadapannya dengan rasa haru mendalam. “Engkau adalah cerminan seorang pemimpin negara. Dan kau memberi semisal yang sukar diikuti oleh penerusmu,” gumamnya.

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a mendapati Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a terjadi terburu-buru di Medinah. Ia bertanya kepada Umar r.a, “Hendak ke mana, wahai Amirul Mukminin?”

Sambil tetap berjalan, Umar r.a menjawab singkat, “Seekor unta sedekah kabur!”

“Tidak adakah orang lain yang mampu mencarinya tidak cuman dirimu?” tanya Ali r.a.

Kemudian Umar r.a menjawab, “Demi Allah yang mengutus Muhammad dengan kebenaran. Seandainya ada seekor kambing kabur ke sungai Efrat, Umar-lah yang dapat dimintai pertanggungjawaban atasnya di akhirat kelak!”

Ali r.a. berkata, “Kau telah menambahkan teladan yang melelahkan bagi penerusmu.”

Pada riwayat yang lain dikisahkan pula bahwa di musim panas yang terik membakar tanah padang pasir dan mengembuskan angin kering, utusan berasal dari Irak yang dipimpin oleh Ahnaf bin Qais r.a mengunjungi Umar bin Khaththab r.a.

Mereka mendapati Amirul Mukminin tengah membebaskan sorban dan berbalut selendang untuk mengurus unta sedekah. Salah seorang berasal dari utusan tersebut berkata, “Tidakkah sebaiknya engkau memerintahkan seorang hamba sahaya untuk mengurus unta sedekah sehingga engkau tidak wajib melaksanakan hal ini?”

Umar r.a menjawab dengan rendah hati, “Hamba mana yang lebih menghamba daripadaku? Barangsiapa yang memegang wewenang atas urusan kaum muslimin, ia bertanggung jawab atas mereka. la punya kewajiban atas mereka sebagaimana kewajiban seorang hamba kepada tuannya, yaitu memberi nasihat dan menyampaikan amanat!”

Sumber : situs bahasa inggris gratis

Baca Juga :