Table of Contents

Tak Pernah Memakan Korban

Tak Pernah Memakan Korban
Tak Pernah Memakan Korban

Ini kesekian kali aku bertemu dengan seorang pengamen yang kebetulan selalu muncul di jam-jam yang sama, di atas bis yang mengantarku pulang setiap malam. Aku baru bekerja 3 bulan ini, dan baru 3 bulan pula rutin melintasi jalan ini dengan rute bis yang sama. Pengamen ini segera menarik perhatianku, karena walaupun bibirnya menghitam kelam karena rokok dan celana serta bajunya nampak usang, dia berusaha tampil bersih dan rapi. Lagu-lagunya tak pernah cemen, dan dinyanyikan dengan lantang tak merayu. Satu lagi, sorot mata itu.. tajam dan kuat. Suatu kali, bis setengah kosong dan karena itu dia punya waktu luang untuk sekedar duduk menanti pemberhentian berikutnya. Aku beruntung dia duduk di dekatku, dan aku memulai percakapan. Beberapa kali bertemu dalam satu minggu selama berbulan-bulan membuatku tidak sulit untuk mulai menyapanya. Aku membicarakan tempat pemberhentian berikutnya, jalur bis yang dia tumpangi, cuaca dan hal-hal ringan lainnya. Tapi sepertinya orang ini tahu aku menganggapnya tidak biasa, dan dia tidak keberatan untuk membuka sedikit cerita masa lalunya. “Aku dulu tentara.” Dia memulai cerita dengan tiga kata yang membuatku paham mengapa tampilannya berbeda dari pengamen pada umumnya. Sejak remaja, dia sudah menunjukkan bakat menembak yang luar biasa. Bersama teman dan pamannya dia sering berburu ke hutan, mengasah ketepatan bidikan demi bidikan. Namun dia sendiri tidak pernah membunuh hewan dengan berlebihan. Setiap hewan buruan dia pastikan tidak tersia-sia dengan menjadikannya bahan makanan. Tibalah kesempatan untuk menyalurkan bakatnya guna melindungi orang lain ketika ada tawaran untuk menjadi tentara. Segera setelah selesai masa pendidikan dia menjadi sniper ulung. Negara mengirimnya ke medan perang; dan di sinilah dirinya diuji. Dia tidak pernah menembak orang, di medan peperangan pikirannya sangat kacau karena tidak mau membunuh orang yang tidak bersalah. Puncaknya adalah ketika dia harus menembak seorang wanita yang sedang berjalan di dekat anak kecil. Dia tidak bisa melakukannya. Wanita itu tidak melakukan apa-apa, dan ada anak kecil bersamanya. Matanya basah karena air mata dan karena itu dia tidak bisa membidik dan akhirnya menolak untuk menembak. Segera dia dibebastugaskan, menjalani hukuman karena menolak perintah dan masuk daftar hitam sehingga tidak bisa mendapatkan pekerjaan di mana pun. “Aku tidak menyesal.. Sampai hari ini pun aku tidak menyesal,” jawabnya ketika kutanya bagaimana perasaannya sekarang. “Aku ingin melindungi orang, bukan membunuhnya. Sekarang aku tidak punya tempat tinggal dan makan dari mengamen, tapi aku masih bisa hidup dengan cara seperti ini. Jika dulu aku menembak wanita tak bersalah itu, aku tidak akan bisa hidup lagi. Aku yakin.” Aku termangu mencerna kalimat-kalimat terakhirnya. Bagi sebagian orang hidup di jalanan dan tidak bertempat tinggal adalah akhir dari hidup. Mungkin lebih baik mati daripada menjalani hidup yang demikian. Banyak orang memilih lebih baik mengambil kehidupan dan kebahagiaan orang lain agar bisa tetap hidup enak dan terhormat. Pengamen ini membuktikan dirinya jauh lebih mulia dari banyak orang.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/