Kajian Keislaman Kian Digandrungi Kaum Milenial

Kajian Keislaman Kian Digandrungi Kaum Milenial
Kajian Keislaman Kian Digandrungi Kaum Milenial

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Kalimantan menggelar Borneo Undergraduate Academic Forum (BUAF).

Ini merupakan kegiatan keempat dan dipusatkan di IAIN Samarinda, Kalimantan Timur, sejak Ahad (11/10/2019) hingga Selasa (15/10/2019).

Rektor IAIN Samarinda, Ilyasin, mengatakan, Borneo Undergraduate Academic Forum menjadi momentum para mahasiswa mengasah daya intelektualnya melalui karya yang telah ditulis.

“Saya bangga dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada mahasiswa PTKIN. Tidak hanya se-Kalimantan, tetapi juga berapa kampus PTKIN lain di wilayah Indonesia yang telah mengambil bagian dalam forum akademis ini,” kata Ilyasin, Selasa (15/10/2019).

Dirinya menuturkan, meskipun BUAF diselenggarakan sebagai forum akademik tingkat regional PTKIN se-Kalimantan, tetapi kualitas penyelenggaraan tidak kalah dengan forum ilmiah di tingkat nasional bahkan internasional.

“Pembicara tamu yang hadir rata-rata bertaraf internasional

dan tema yang diangkat merupakan tema yang mencerminkan kepedulian global dan tantangan kekinian,” ungkapnya.

Forum akademik bergengsi ini dihadiri sejumlah intelektual ternama, seperti Nyi Nyi Kyaw, The Institut of Shoutheast Asian Studies Yusof Ishaq Institut Singapura, dan Mujiburrohman selaku Rektor UIN Antasari Banjarmasin.

Juga hadir Nurhaidi sebagai Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, dan Ruchman Basori (Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan) mewakili Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama.

Tampil sebagai keynote speaker, Nurhaidi —yang juga Direktur Pascasarjana UIN

Sunan Kalijaga Yogjakarta— membawakan tema Kajian Keislaman Kontemporer dan Tantangan Globalisasi di Era Millenial.

Menurutnya, saat ini kajian keislaman semakin menarik dan diminati banyak kalangan, termasuk kaum muda di Indonesia.

“BUAF ini sangat menarik dan penting untuk kalangan mahasiswa yang rata-rata di usia milenial dan saya sangat apresiatif digelarnya forum ini,” kata Nurhaidi.

Dilihat dari perkembangan buku-buku keislaman yang muncul, lanjut Nurhaidi,

kini dapat dipetakan menjadi lima, yaitu wacana tentang jihadis, ikhwanul muslimin, salafi, dan muslim kontemporer.

Sementara itu, Ruchman Basori, Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan yang mewakili Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, mengatakan, kegiatan ini sangat strategis untuk ajang bagi mahasiswa peduli pada masalah keagamaan, sosial dan kebangsaan.

 

Sumber :

https://my.carthage.edu/ICS/Academics/EXS/EXS_3070__UG16/RC_2017_UNDG-EXS_3070__UG16_-01/Announcements.jnz?portlet=Announcements&screen=View+Post&screenType=next&Id=eda97e6f-e45d-4ff5-a64e-b389521e4ebe